Kemenkes Kerahkan Nakes dan Logistik Hadapi Dampak Karhutla di 7 Provinsi

Kemenkes kerahkan nakes dan logistik untuk menangani dampak karhutla di 7 provinsi setelah jutaan warga terpapar kabut asap.

UlasYuk.com, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bergerak cepat mengantisipasi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Sebanyak 314 tenaga medis dan tenaga kesehatan dikerahkan ke daerah terdampak

Kemenkes Kerahkan Nakes dan Logistik Hadapi Dampak Karhutla di 7 Provinsi

Langkah tersebut dilakukan setelah lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten/kota terpapar langsung kabut asap. Kondisi ini turut meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Selain mengirim tenaga kesehatan, Kemenkes juga mendistribusikan ratusan ribu perlengkapan medis. Bantuan tersebut mencakup masker, alat pendukung oksigen, obat-obatan, vitamin, hingga perlengkapan pelindung bagi petugas.

Karhutla Berdampak pada Tujuh Provinsi

Berdasarkan data Kemenkes per 21 Agustus 2026, karhutla berdampak pada tujuh provinsi. Wilayah tersebut berada di Sumatera dan Kalimantan.

Tujuh provinsi yang masuk dalam penanganan tersebut adalah:

  • Jambi
  • Riau
  • Sumatera Selatan
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Tengah
  • Kalimantan Selatan
  • Kalimantan Timur

Dari tujuh provinsi tersebut, enam daerah telah menetapkan status siaga darurat bencana. Kondisi ini berkaitan dengan kemarau panjang yang berlangsung sejak awal 2026.

Situasi tersebut membuat kualitas udara menjadi perhatian serius. Asap dari kebakaran lahan dapat mengganggu saluran pernapasan. Kelompok rentan juga berisiko mengalami dampak yang lebih berat.

Karena itu, pemerintah memperkuat layanan kesehatan di wilayah yang menghadapi paparan asap. Penanganan tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan agar gangguan kesehatan tidak semakin meluas.

Kemenkes Kerahkan 314 Tenaga Kesehatan

Kemenkes mengerahkan 314 tenaga kesehatan sebagai bagian dari upaya mitigasi. Tim tersebut terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog.

Konsentrasi utama pengerahan tenaga kesehatan berada di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Kedua wilayah tersebut menghadapi peningkatan persoalan kesehatan akibat paparan asap.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin mengatakan pengerahan tenaga kesehatan dilakukan sebagai respons terhadap kondisi di lapangan. Tim diharapkan dapat memperkuat pelayanan sekaligus membantu pemantauan risiko kesehatan masyarakat.

Selain tenaga kesehatan, dukungan logistik juga terus diberikan. Kemenkes mencatat sejumlah besar perlengkapan kesehatan telah disalurkan ke wilayah terdampak.

Logistik tersebut antara lain:

  • 278.940 masker.
  • 56 unit Oxygen Concentrator.
  • 40 buah face shield.
  • 1.000 pasang sarung tangan medis.
  • 36 tabung Oxycan.
  • 8 set alat pelindung diri.
  • 33 dus Pemberian Makanan Tambahan.
  • Obat-obatan dan vitamin.

Distribusi tersebut menjadi bagian penting dalam menghadapi kondisi darurat kesehatan. Masker membantu mengurangi paparan partikel asap. Sementara itu, dukungan oksigen diperlukan bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan.

Kasus ISPA Mengalami Peningkatan

Dampak karhutla mulai terlihat pada perkembangan kasus gangguan pernapasan. Salah satu indikatornya adalah peningkatan kasus ISPA di beberapa daerah.

Di Kalimantan Tengah, kasus ISPA meningkat dari 402 menjadi 716 kasus dalam waktu satu minggu. Angka tersebut menunjukkan kenaikan sekitar 78,1 persen.

Sementara itu, Kalimantan Barat mencatat lebih dari 151 ribu kasus ISPA sejak Januari 2026. Peningkatan tertinggi dilaporkan terjadi di Pontianak, Kubu Raya, dan Mempawah.

Tren serupa juga muncul di wilayah lain. Riau dan Kalimantan Selatan melaporkan gangguan kesehatan yang berkaitan dengan paparan asap. Kasus yang muncul antara lain ISPA, asma, dan iritasi.

Meskipun begitu, Kemenkes menyatakan belum ada laporan korban jiwa akibat bencana asap tersebut. Pemerintah tetap melakukan pemantauan karena kondisi cuaca dan kualitas udara dapat berubah dengan cepat.

Di sisi lain, masyarakat perlu memahami bahwa dampak asap tidak selalu muncul dalam waktu singkat. Paparan dapat mengganggu saluran pernapasan. Karena itu, pencegahan tetap menjadi langkah penting selama kondisi udara belum membaik.

Pos Kesehatan dan Ruang Oksigen Disiapkan

Upaya penanganan juga dilakukan melalui penguatan fasilitas kesehatan di titik rawan. Pemerintah mendirikan pos kesehatan dan ruang oksigen di sejumlah wilayah yang terdampak.

Kabupaten Barito Utara, Barito Timur, dan Kota Palangkaraya menjadi beberapa lokasi yang mendapat dukungan tersebut. Fasilitas ini ditujukan untuk mempercepat pertolongan bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan.

Selain itu, Kalimantan Barat menjalankan program “Oase Udara” di sejumlah fasilitas kesehatan. Program tersebut ditujukan untuk memastikan ketersediaan oksigen bagi masyarakat yang mengalami sesak napas.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api. Dampak kesehatan juga membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi.

Sementara itu, tenaga kesehatan di daerah menjadi bagian penting dalam sistem penanganan. Mereka dapat membantu pemeriksaan warga, pemantauan kondisi pasien, serta memberikan edukasi terkait risiko paparan asap.

Musim Kemarau Diprediksi Berlangsung hingga September

Kemenkes mengingatkan masyarakat agar tetap waspada karena puncak musim kemarau diprediksi berlangsung hingga September 2026. Kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi karhutla di sejumlah wilayah.

Masyarakat di zona terdampak diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan. Terutama ketika kualitas udara sedang buruk dan kabut asap terlihat semakin pekat.

Beberapa langkah yang dianjurkan masyarakat antara lain:

  • Membatasi aktivitas di luar ruangan.
  • Menggunakan masker ketika harus keluar rumah.
  • Memantau indeks kualitas udara secara rutin.
  • Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
  • Memperbanyak konsumsi air putih.
  • Segera mendatangi fasilitas kesehatan jika mengalami gangguan pernapasan.

Selain itu, masyarakat perlu memperhatikan kondisi kelompok rentan. Anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih saat kualitas udara menurun.

Namun, pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat. Penanganan karhutla juga membutuhkan koordinasi lintas sektor. Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, petugas lapangan, dan masyarakat perlu bergerak bersama.

Pemerintah Perkuat Antisipasi Dampak Karhutla

Pengerahan tenaga kesehatan dan logistik menjadi langkah Kemenkes untuk menghadapi dampak karhutla yang meluas. Lebih dari 3 juta warga yang terpapar asap menunjukkan besarnya tantangan kesehatan yang harus ditangani.

Dengan dukungan 314 tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan di wilayah terdampak diharapkan dapat memberikan pelayanan secara optimal. Distribusi logistik juga membantu memenuhi kebutuhan dasar selama kondisi darurat.

Di sisi lain, masyarakat tetap perlu mengambil langkah pencegahan. Memantau kualitas udara dan mengurangi paparan asap dapat membantu menekan risiko gangguan kesehatan.

Kondisi karhutla diperkirakan masih perlu mendapat perhatian hingga puncak kemarau berlalu. Karena itu, kewaspadaan dan respons cepat menjadi kunci untuk mengurangi dampak kesehatan akibat kabut asap.

Data dan informasi dalam artikel ini merujuk pada keterangan resmi Kementerian Kesehatan RI yang dirilis 21 Agustus 2026.