Saham GOTO Kembali Gocap Usai Wacana Pemangkasan Komisi Ojol

Saham GOTO kembali gocap setelah pemerintah berencana memangkas komisi ojol maksimal 8 persen mulai Juni 2026.

UlasYuk.com, Jakarta - Saham GOTO kembali gocap setelah pemerintah berencana memangkas komisi ojek online menjadi maksimal 8 persen mulai Juni 2026. Kondisi ini membuat tekanan terhadap saham teknologi kembali meningkat di Bursa Efek Indonesia.

Saham GOTO Kembali Gocap Usai Wacana Pemangkasan Komisi Ojol

Harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali menyentuh level Rp50 per lembar pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026. Level tersebut dikenal sebagai saham gocap, istilah yang digunakan investor untuk saham dengan harga terendah di papan perdagangan reguler BEI.

Padahal sebelumnya, saham GOTO sempat menunjukkan penguatan positif. Pada akhir April 2026, emiten teknologi tersebut mencatat kenaikan lebih dari 3 persen setelah mengumumkan laba perdana sejak melantai di Bursa Efek Indonesia melalui Initial Public Offering (IPO).

Saham GOTO Kembali Gocap Dipicu Sentimen Regulasi

Kembalinya saham GOTO ke level Rp50 dinilai tidak lepas dari sentimen kebijakan pemerintah terkait industri ojek online. Pemerintah Indonesia disebut tengah menyiapkan aturan baru mengenai pemangkasan komisi aplikasi ojol menjadi maksimal 8 persen.

Kebijakan tersebut rencananya mulai berlaku pada Juni 2026. Sementara itu, investor pasar modal menilai aturan baru ini berpotensi memengaruhi pendapatan platform digital, termasuk GOTO yang memiliki lini bisnis transportasi online melalui Gojek.

Selain itu, tekanan jual juga datang dari investor asing. Dalam sepekan terakhir, investor asing tercatat melakukan net sell atau penjualan bersih sebesar 6,52 miliar lembar saham GOTO. Nilai transaksi penjualan tersebut mencapai sekitar Rp168,1 miliar.

Di sisi lain, sebagian investor masih menunggu kepastian aturan resmi dari pemerintah. Pasalnya, dampak langsung terhadap kinerja perusahaan belum dapat dihitung secara pasti sebelum kebijakan diterapkan sepenuhnya.

Kapitalisasi Pasar GOTO Masih Besar

Meski saham GOTO kembali gocap, kapitalisasi pasar perusahaan masih tergolong besar di sektor teknologi Indonesia. Berdasarkan data IDNFinancials, kapitalisasi pasar GOTO saat ini mencapai Rp53,1 triliun.

Nilai tersebut menjadikan GOTO sebagai emiten terbesar di industri aplikasi dan jasa internet. Selain itu, GOTO juga berada di posisi kedua terbesar di sektor teknologi secara keseluruhan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa minat pasar terhadap bisnis digital masih cukup tinggi. Namun, volatilitas saham teknologi tetap menjadi perhatian investor karena sangat sensitif terhadap sentimen regulasi dan kondisi ekonomi.

Investor Ritel Masih Bertambah

Menariknya, jumlah pemegang saham GOTO justru mengalami peningkatan. Hingga 31 Maret 2026, jumlah pemegang saham tercatat sebanyak 362.047 Single Investor Identification atau SID.

Jumlah tersebut meningkat sekitar 7.888 SID dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini menandakan investor ritel masih aktif mengoleksi saham GOTO meskipun harga saham berada di level rendah.

Beberapa investor menilai harga Rp50 menjadi area menarik untuk akumulasi jangka panjang. Namun, sebagian lainnya masih memilih menunggu perkembangan bisnis dan arah regulasi pemerintah.

Pemegang Saham Besar GOTO

Saat ini, pemegang saham terbesar GOTO masih didominasi investor institusi global. SVF GT Subco (Singapore) Pte. Ltd. tercatat memiliki 7,65 persen saham perusahaan.

Sementara itu, Taobao China Holding Limited menguasai sekitar 7,43 persen saham GOTO. Kepemilikan publik, termasuk investor dengan porsi di atas 1 persen, mencapai 76,61 persen.

Adapun penerima manfaat akhir atau ultimate beneficial owner dari GOTO antara lain Andre Soelistyo, Kevin Bryan Aluwi, Melissa Siska Juminto, dan William Tanuwijaya.

Besarnya kepemilikan publik membuat pergerakan saham GOTO sangat dipengaruhi sentimen pasar. Karena itu, kabar terkait regulasi maupun laporan keuangan sering memicu fluktuasi harga cukup tajam.

Prospek Saham Teknologi Masih Jadi Sorotan

Sektor teknologi masih menjadi salah satu sektor yang menarik perhatian investor di Indonesia. Namun, perubahan regulasi dinilai dapat memberikan dampak besar terhadap valuasi perusahaan digital.

Selain itu, investor kini lebih fokus pada kemampuan emiten teknologi menghasilkan laba berkelanjutan. GOTO sebelumnya mendapat respons positif setelah membukukan laba perdana sejak IPO.

Meskipun begitu, tantangan bisnis tetap besar. Persaingan industri digital semakin ketat, sementara perusahaan juga harus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pengguna dan profitabilitas.

Karena itu, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan kebijakan komisi ojol dalam beberapa bulan ke depan. Jika aturan baru benar diterapkan, maka dampaknya terhadap kinerja emiten teknologi akan menjadi perhatian utama investor.

Sekedar Berbagi Informasi seputar Kehidupan