Akses Internet di Iran Jadi Barang Mewah Usai Diputus 80 Hari
UlasYuk.com - Teheran - Akses internet di Iran jadi barang mewah setelah pemerintah setempat memberlakukan pembatasan ketat selama lebih dari 80 hari. Kebijakan itu muncul di tengah konflik geopolitik yang memanas dan memicu gangguan besar terhadap komunikasi digital masyarakat.
Pemutusan internet nasional di Iran disebut sebagai yang terpanjang dalam sejarah negara tersebut. Kondisi itu membuat jutaan warga kesulitan mengakses informasi, bekerja secara daring, hingga menjalankan usaha kecil yang bergantung pada internet.
Selain itu, pemerintah Iran kini memperkenalkan layanan bernama “Internet Pro”. Layanan ini memberi akses internet khusus kepada kelompok tertentu dengan sistem berbayar dan pembatasan penggunaan harian untuk situs asing.
Akses Internet di Iran Jadi Barang Mewah di Tengah Krisis
Pemutusan internet di Iran dimulai setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap negara tersebut pada 28 Februari 2026. Sejak saat itu, akses komunikasi digital masyarakat terganggu secara masif.
Kebijakan terbaru dari Dewan Keamanan Nasional Iran memunculkan layanan “Internet Pro” untuk kelompok tertentu. Namun, layanan ini dinilai tidak benar-benar menghadirkan internet bebas.
“Internet Pro” memungkinkan sebagian pengguna melewati pemblokiran tertentu. Meski begitu, platform populer seperti Instagram, X, hingga YouTube tetap sulit diakses tanpa bantuan Virtual Private Network atau VPN.
Peneliti internet dan aktivis hak digital Iran, Solmaz Eikder, menyebut layanan tersebut lebih mirip fasilitas terbatas dibanding internet terbuka. Menurutnya, masyarakat umum tetap mengalami kesulitan besar untuk memperoleh akses informasi global.
Sementara itu, pemerintah Iran berdalih kebijakan itu dibuat demi menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan selama masa krisis. Namun, banyak pihak menilai akses internet kini berubah dari hak publik menjadi layanan eksklusif.
Internet Pro Hanya untuk Kelompok Tertentu
Layanan “Internet Pro” hanya diberikan kepada kalangan profesional tertentu. Mereka meliputi anggota kamar dagang, startup teknologi, perusahaan digital, dan pelaku usaha tertentu.
Paket awal layanan tersebut mencapai 50 gigabita data dengan biaya sekitar 11 dolar AS atau hampir Rp195 ribu. Angka itu dinilai sangat mahal bagi sebagian besar warga Iran yang sedang menghadapi tekanan ekonomi berat.
Selain itu, inflasi di Iran kini disebut menembus lebih dari 50 persen. Nilai mata uang rial juga terus melemah sehingga harga kebutuhan pokok melonjak tajam.
Banyak Warga Kehilangan Penghasilan
Pemutusan internet berkepanjangan berdampak langsung terhadap ekonomi digital masyarakat. Banyak pelaku usaha kecil kehilangan pemasukan karena tidak dapat berjualan secara online.
Perempuan di kota kecil dan desa menjadi salah satu kelompok paling terdampak. Sebelumnya, mereka mengandalkan internet untuk menjual makanan, pakaian buatan tangan, hingga produk rumahan lainnya.
Kini, peluang itu nyaris hilang sepenuhnya. Selain kehilangan akses pasar, mereka juga kesulitan berkomunikasi dengan pelanggan dan pemasok.
Di sisi lain, mahasiswa dan masyarakat umum justru tidak masuk dalam prioritas penerima “Internet Pro”. Kondisi tersebut memicu kritik luas dari berbagai media dan kelompok masyarakat sipil di Iran.
Kritik Menguat terhadap Kebijakan Internet Iran
Sejumlah media lokal Iran mengkritik kebijakan tersebut karena dianggap menciptakan kesenjangan digital baru. Akses internet kini dipandang sebagai privilese, bukan hak dasar masyarakat.
Seorang mahasiswa teknik berusia 19 tahun mengaku masih mengandalkan VPN dari pasar gelap agar tetap bisa mengakses internet global. Namun, harga VPN juga semakin mahal dan sulit dijangkau sebagian warga.
Setiap pengguna layanan “Internet Pro” juga diwajibkan memakai nomor identitas nasional dan nomor ponsel resmi. Karena itu, muncul kekhawatiran terkait pengawasan digital yang semakin ketat.
Spesialis kebebasan internet dari DW, Oliver Linow, mengatakan masyarakat Iran kini makin sulit memperoleh berita independen. Menurutnya, alat penembus sensor internet sering kali tidak efektif ketika terjadi pemadaman hampir total.
Meskipun begitu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menjanjikan layanan internet akan segera dipulihkan. Pemerintah juga disebut membentuk tim manajemen krisis baru untuk menangani kebijakan kontrol digital.
Dampak Pemutusan Internet bagi Masyarakat Iran
Pemutusan internet selama lebih dari 80 hari membawa dampak luas bagi kehidupan warga Iran. Berikut beberapa efek yang paling dirasakan masyarakat:
- Aktivitas bisnis digital lumpuh
- Komunikasi internasional terganggu
- Mahasiswa kesulitan mengakses materi pendidikan
- Harga VPN meningkat di pasar gelap
- Informasi independen makin sulit diperoleh
- Pelaku UMKM kehilangan pelanggan online
Selain itu, fasilitas industri yang rusak akibat konflik juga memperparah kondisi ekonomi nasional. Banyak perusahaan mengalami kerugian besar dan ribuan pekerja kehilangan pekerjaan.
Sementara itu, pemerintah Iran masih belum memberikan kejelasan penuh terkait masa depan kebijakan internet nasional. Publik pun menunggu apakah akses internet benar-benar dipulihkan atau justru semakin dibatasi.
Kondisi ini membuat akses internet di Iran jadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati sebagian kelompok tertentu. Di tengah era digital global, situasi tersebut memunculkan kekhawatiran baru mengenai kebebasan informasi dan hak komunikasi masyarakat.
