Erupsi Gunung Anak Krakatau Sebar Abu dan Ganggu Penerbangan

Erupsi Gunung Anak Krakatau Sebar Abu dan Ganggu Penerbangan

Ulasyuk.com - Jakarta, erupsi Gunung Anak Krakatau pada 4-6 September 2026 menyebarkan abu vulkanik ke sejumlah wilayah Jawa dan Sumatra. Aktivitas tersebut juga mengganggu penerbangan, kesehatan masyarakat, serta kegiatan pendidikan di sejumlah daerah.

Badan Geologi mencatat Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Minggu, 6 September 2026 pukul 20.23 WIB. Erupsi itu berlangsung selama 44 detik dan terekam pada seismograf. Sebelumnya, erupsi berdurasi 16 detik juga tercatat pada pukul 07.10 WIB.

Gunung Anak Krakatau berstatus Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026. Masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Potensi keruntuhan tubuh gunung yang dapat memicu tsunami belum teridentifikasi, tetapi perkembangan aktivitasnya masih dipantau secara intensif.

Erupsi Gunung Anak Krakatau Sebarkan Abu ke Sejumlah Wilayah

Analisis citra satelit Himawari-9 pada 6 September menunjukkan dua klaster sebaran abu vulkanik. Abu pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya.

Sementara itu, abu pada ketinggian hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Sebaran tersebut mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia.

Profesor klimatologi dan perubahan iklim BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa luasnya sebaran abu berkaitan dengan daya dorong letusan dan ketinggian kolom erupsi. Kolom abu diperkirakan mencapai 13-17 kilometer sehingga angin di berbagai lapisan atmosfer turut memengaruhi pergerakannya.

Abu yang berada di lapisan tinggi terdorong menuju Samudra Hindia. Sebagian lainnya berputar di sejumlah kawasan dan kemudian turun akibat gravitasi. Karena itu, hujan abu masih dapat berlangsung selama beberapa hari.

Delapan Bandara Ditutup Sementara

Sebaran abu vulkanik berdampak langsung terhadap keselamatan penerbangan. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengumumkan penutupan sementara delapan bandara setelah pemeriksaan menunjukkan adanya abu vulkanik.

  • Bandara Radin Inten dan Taufik Kiemas di Lampung.
  • Bandara Soekarno-Hatta, Budiarto, dan Pondok Cabe.
  • Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta.
  • Bandara Husein Sastranegara di Jawa Barat.
  • Bandara Atung Bungsu di Sumatera Selatan.

Data PT Angkasa Pura Indonesia mencatat 459 penerbangan dibatalkan hingga pukul 09.15 WIB. Bandara Soekarno-Hatta menjadi lokasi dengan penerbangan terdampak terbanyak, yakni 209 penerbangan yang melibatkan 22.798 penumpang.

Abu vulkanik berbahaya bagi pesawat karena mengandung silika yang dapat mengikis bilah turbin, menyumbat saluran udara, dan mengganggu kinerja mesin. Abu juga dapat mengurangi jarak pandang serta menempel pada kaca kokpit dan sayap pesawat.

Transportasi darat dan laut masih beroperasi. Layanan penyeberangan Merak-Bakauheni tetap berjalan, sementara PT Kereta Api Indonesia menambah layanan dari Yogyakarta, Malang, dan Semarang menuju Jakarta.

Dampak Kesehatan dan Pendidikan

Abu vulkanik dapat memicu batuk, iritasi tenggorok, gangguan pernapasan, serta memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronik. Partikelnya juga berpotensi mengiritasi mata dan kulit. Jika mencemari makanan atau air, abu dapat mengganggu saluran pencernaan.

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Tjandra Yoga Aditama, mengimbau masyarakat menggunakan masker N95 atau KN95. Warga juga dianjurkan memakai kacamata pelindung dan pakaian lengan panjang ketika harus beraktivitas di luar rumah.

Rumah sebaiknya ditutup rapat agar abu tidak masuk. Makanan dan sumber air perlu ditutup, sedangkan warga yang mengalami gangguan pernapasan dianjurkan segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.

Dampak erupsi juga terasa di sektor pendidikan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerapkan pembelajaran jarak jauh untuk seluruh jenjang pendidikan mulai 7 September 2026 hingga situasi memungkinkan. Lampung dan sejumlah daerah terdampak lain turut menyiapkan atau menerapkan kebijakan serupa.

Pemantauan Aktivitas Masih Berlangsung

PVMBG menyatakan penurunan amplitudo seismik pada 6 September tidak otomatis berarti aktivitas Gunung Anak Krakatau berhenti. Kondisi gunung masih dinamis dan aktivitasnya tetap berpotensi meningkat.

Karena itu, masyarakat perlu mengikuti informasi resmi dari Badan Geologi, PVMBG, BMKG, BNPB, serta pemerintah daerah. Warga juga harus mematuhi larangan memasuki radius 3 kilometer dari kawah aktif dan tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.

Sekedar Berbagi Informasi seputar Kehidupan