Dokter Gizi Ungkap Risiko Kebiasaan Makan Nasi Segunung

Kebiasaan makan nasi dalam porsi besar dapat meningkatkan risiko gangguan gula darah. Dokter gizi menjelaskan dampaknya.

Ulasyuk.com - Jakarta, kebiasaan makan nasi dalam porsi sangat besar atau hingga terlihat “menggunung” mendapat perhatian dari dokter gizi karena dapat membuat asupan karbohidrat dalam sekali makan menjadi sangat tinggi.

Dokter Gizi Ungkap Risiko Kebiasaan Makan Nasi Segunung

Perhatian itu muncul setelah video seorang anak sekolah yang makan di sebuah warung ramai di media sosial. Dalam video tersebut, sepiring nasi terlihat memiliki porsi cukup besar hingga tampak menggunung.

Porsi seperti itu memang dapat memberikan rasa kenyang, terutama setelah seseorang menjalani aktivitas sejak pagi. Namun, dokter mengingatkan bahwa kebiasaan makan nasi dalam jumlah sangat banyak perlu mendapat perhatian jika berlangsung terus-menerus.

Kebiasaan Makan Nasi Segunung Bisa Picu Lonjakan Gula Darah

Dokter spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa nasi menjadi salah satu sumber karbohidrat yang umum dikonsumsi sehari-hari.

Tubuh mencerna karbohidrat dari nasi menjadi glukosa. Selanjutnya, tubuh menggunakan glukosa sebagai salah satu sumber energi.

Namun, konsumsi nasi dalam jumlah sangat besar sekaligus membuat tubuh menerima karbohidrat dalam jumlah tinggi. Kondisi tersebut dapat membuat kadar gula darah meningkat cukup tinggi setelah makan.

“Karbohidrat dalam jumlah besar bisa meningkatkan gula darah cukup tinggi setelah makan,” jelas dr Yaze.

Karena itu, jumlah nasi dalam satu kali makan perlu mendapat perhatian. Apalagi, kebiasaan tersebut dapat menjadi masalah ketika seseorang terus mengulang pola makan yang sama dalam jangka panjang.

Dr Yaze mengatakan kebiasaan mengonsumsi nasi dalam jumlah besar secara terus-menerus dapat meningkatkan risiko resistensi insulin, prediabetes hingga diabetes.

Resistensi insulin berkaitan dengan menurunnya respons tubuh terhadap insulin dalam menjaga kadar gula darah tetap normal. Oleh karena itu, seseorang perlu memperhatikan pola makan secara keseluruhan dan tidak hanya melihat rasa kenyang setelah makan.

Dampaknya Bisa Muncul Tanpa Keluhan

Salah satu hal yang perlu diperhatikan dari gangguan pengaturan gula darah adalah kemunculan gejala yang tidak selalu terasa sejak awal.

Seseorang dapat tetap merasa sehat meskipun tubuh mulai mengalami gangguan dalam mengatur kadar gula darah. Dengan demikian, rasa sehat setelah mengonsumsi nasi dalam jumlah besar tidak otomatis menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut aman jika terus dilakukan.

Ketika gejala mulai muncul, beberapa keluhan dapat dirasakan. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Sering merasa haus.
  • Sering buang air kecil.
  • Sering merasa lapar.
  • Tubuh lebih mudah lelah.

Namun, munculnya keluhan tersebut tidak berarti setiap orang yang mengalaminya pasti memiliki kondisi yang sama. Pemeriksaan dan penilaian tenaga kesehatan tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi tubuh secara tepat.

Sementara itu, kebiasaan makan dengan porsi nasi yang sangat besar tetap perlu mendapat perhatian, terutama jika seseorang melakukannya secara rutin.

Nasi Tetap Boleh dalam Pola Makan Sehari-hari

Meski dokter menyoroti risiko konsumsi nasi dalam jumlah besar, bukan berarti masyarakat harus menghindari nasi.

Dr Yaze menegaskan bahwa nasi tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehari-hari. Hal yang lebih penting adalah menyesuaikan porsinya dengan kebutuhan tubuh.

“Jadi, nasi bukan berarti nggak boleh, tapi harus sesuai dengan kebutuhan tubuh kita,” ujar dr Yaze.

Selain mengatur jumlah nasi, seseorang juga perlu memperhatikan keseimbangan makanan dalam satu piring. Lauk dapat menjadi sumber protein, sedangkan sayuran dan buah turut melengkapi kebutuhan gizi.

Pedoman Gizi Seimbang melalui konsep Isi Piringku dapat membantu masyarakat melihat pembagian makanan dalam satu kali makan. Dengan cara tersebut, nasi tidak mengambil porsi yang terlalu dominan dalam satu piring.

Pola makan seimbang juga membantu seseorang melihat makanan sebagai satu kesatuan. Jadi, perhatian tidak hanya tertuju pada jumlah nasi, tetapi juga pada lauk, sayuran, buah, serta kebutuhan tubuh secara keseluruhan.

Porsi Anak Sekolah Perlu Menyesuaikan Kebutuhan

Anak sekolah memiliki kebutuhan energi untuk mendukung aktivitas dan proses pertumbuhan. Karena itu, orang tua tetap perlu memperhatikan kebutuhan makan anak tanpa sekadar melarang konsumsi nasi.

Porsi nasi pada anak perlu menyesuaikan usia, aktivitas fisik, kebutuhan energi, dan pola makan sepanjang hari.

Misalnya, anak yang menjalani aktivitas fisik sejak pagi tentu memiliki kebutuhan energi yang perlu diperhatikan. Namun, kebutuhan tersebut tetap tidak berarti anak harus mengonsumsi nasi dalam jumlah berlebihan setiap kali makan.

Selanjutnya, orang tua dapat memperhatikan keseimbangan isi piring. Nasi dapat tetap hadir bersama sumber protein, sayuran, dan buah.

Dengan demikian, anak tetap memperoleh sumber energi dari makanan tanpa menjadikan nasi sebagai satu-satunya bagian utama dalam porsi makan.

Bukan Berarti Harus Menghindari Nasi

Kekhawatiran terhadap gula darah terkadang membuat seseorang berpikir untuk menghapus nasi dari menu harian. Namun, dr Yaze menekankan bahwa nasi tetap dapat dikonsumsi selama porsinya sesuai kebutuhan tubuh.

Yang perlu mendapat perhatian adalah jumlah karbohidrat yang masuk dalam satu waktu. Jika seseorang terus mengonsumsi nasi dalam porsi sangat besar, tubuh akan menerima karbohidrat dalam jumlah tinggi secara berulang.

Karena itu, mengatur porsi menjadi langkah penting dalam menjaga pola makan tetap seimbang. Selain itu, seseorang juga perlu melihat pola makan secara keseluruhan, bukan hanya satu jenis makanan.

Porsi yang sesuai dapat membantu seseorang memenuhi kebutuhan energi tanpa menjadikan konsumsi nasi berlebihan sebagai kebiasaan.

Kesimpulan

Kebiasaan makan nasi dalam porsi sangat besar memang dapat memberikan rasa kenyang. Namun, konsumsi karbohidrat dalam jumlah tinggi pada satu waktu dapat meningkatkan kadar gula darah setelah makan.

Jika kebiasaan tersebut terus berlangsung, dr Yaze menyebut risikonya dapat mencakup resistensi insulin, prediabetes hingga diabetes.

Meski begitu, masyarakat tidak perlu menghindari nasi sepenuhnya. Nasi tetap dapat masuk dalam menu harian selama porsinya menyesuaikan kebutuhan tubuh dan hadir bersama makanan lain dalam pola makan yang seimbang.

FAQ

Apakah makan nasi harus dihentikan untuk menjaga gula darah?
Tidak. Dr Yaze menjelaskan bahwa nasi tetap boleh dikonsumsi. Hal terpenting ialah menyesuaikan porsinya dengan kebutuhan tubuh.

Apa risiko kebiasaan makan nasi dalam jumlah sangat besar?
Konsumsi nasi dalam jumlah besar dapat meningkatkan kadar gula darah setelah makan. Jika kebiasaan itu berlangsung terus-menerus, risikonya dapat meningkat hingga resistensi insulin, prediabetes dan diabetes.

Apakah anak sekolah boleh makan nasi dalam porsi besar?
Anak membutuhkan energi untuk aktivitas dan pertumbuhan. Namun, porsi nasi tetap perlu menyesuaikan usia, aktivitas fisik, kebutuhan energi, serta keseluruhan pola makan.

Apa yang perlu menemani nasi dalam satu piring?
Pola makan seimbang dapat mencakup nasi bersama lauk sebagai sumber protein, serta sayuran dan buah. Dengan begitu, satu kali makan tidak hanya didominasi nasi.