Abu Vulkanik bagi Penderita Asma dan PPOK, Ini Cara Melindungi Diri

Abu Vulkanik bagi Penderita Asma dan PPOK, Ini Cara Melindungi Diri

Ulasyuk.com - Jakarta, paparan abu vulkanik bagi penderita asma dan PPOK perlu diwaspadai karena dapat memicu sesak napas, peradangan saluran pernapasan, hingga perburukan fungsi paru secara cepat.

Meningkatnya aktivitas gunung berapi kerap disertai sebaran abu vulkanik hingga ke permukiman warga. Bagi sebagian orang, paparan tersebut mungkin hanya menimbulkan iritasi ringan pada mata atau tenggorokan.

Namun, risikonya lebih besar bagi penderita asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), dan gangguan paru lainnya. Karena itu, kelompok rentan perlu mengurangi paparan serta mengenali tanda bahaya sejak dini.

Mengapa Abu Vulkanik Berbahaya bagi Penderita Asma dan PPOK?

Abu vulkanik terdiri dari pecahan batuan, mineral, serta serpihan kaca mikroskopis yang mengandung silika. Berdasarkan Surat Edaran Nomor KL.01.02/A/17765/2026, partikel abu dapat berukuran kurang dari 10 mikron atau PM10 hingga kurang dari 2,5 mikron atau PM2.5.

Partikel yang sangat kecil tersebut dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Pada penderita asma, PPOK, atau penyakit paru kronis, partikel itu bisa memicu peradangan, penyempitan saluran napas, dan produksi dahak berlebih.

Penderita asma berisiko mengalami serangan akut dengan gejala batuk terus-menerus, dada terasa tertekan, sesak, dan suara mengi. Sementara itu, penderita PPOK dapat mengalami perburukan kondisi, dahak yang semakin banyak dan kental, serta sesak meski sedang beristirahat.

Langkah Perlindungan Saat Hujan Abu

Ketika wilayah tempat tinggal terpapar atau terancam sebaran abu, penderita gangguan paru perlu melakukan beberapa langkah berikut:

  • Tetap berada di dalam ruangan. Tutup pintu, jendela, dan lubang ventilasi. Kain basah dapat digunakan untuk membantu menahan debu yang masuk.
  • Gunakan masker respirator. Jika harus keluar, gunakan masker N95 atau KN95 yang menempel rapat pada wajah. Masker kain atau masker medis biasa tidak cukup untuk menyaring partikel sangat halus.
  • Siapkan obat rutin. Pastikan inhaler pencegah, inhaler pereda serangan, dan nebulizer tersedia sesuai kebutuhan serta anjuran dokter.
  • Nyalakan air purifier. Perangkat dengan filter HEPA dapat membantu menyaring partikel mikroskopis di dalam ruangan.
  • Hindari aktivitas berat. Olahraga dan pekerjaan fisik dapat mempercepat napas sehingga meningkatkan jumlah abu yang terhirup.

Selain itu, paparan abu dapat merusak jaringan pelindung saluran pernapasan. Kondisi tersebut membuat paru-paru lebih rentan mengalami infeksi sekunder, termasuk pneumonia.

Kapan Harus Segera Mencari Pertolongan?

Penderita asma atau PPOK perlu segera menuju instalasi gawat darurat atau fasilitas kesehatan terdekat jika sesak tidak membaik setelah menggunakan inhaler pereda. Kesulitan berbicara dalam satu kalimat utuh juga menjadi tanda bahaya.

Perhatikan pula perubahan warna bibir, kuku, atau ujung jari yang tampak kebiruan maupun pucat. Dada yang sangat nyeri, tubuh sangat lemas, linglung, dan penurunan kesadaran juga membutuhkan pertolongan segera.

Jika keluhan masih ringan tetapi menetap, konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter. Konsultasi membantu memastikan penanganan sesuai kondisi paru dan obat yang sedang digunakan.

Kesimpulan

Abu vulkanik bagi penderita asma dan PPOK bukan sekadar debu biasa. Partikel halusnya dapat masuk ke bagian dalam paru-paru dan memicu serangan sesak atau memperburuk penyakit yang sudah ada.

Karena itu, tetaplah berada di dalam ruangan, gunakan masker N95 atau KN95 saat harus keluar, siapkan obat rutin, dan hindari aktivitas berat. Jangan menunda pertolongan medis ketika muncul tanda kekurangan oksigen atau sesak yang semakin parah.

Sekedar Berbagi Informasi seputar Kehidupan