Dinkes Sumsel Imbau Daerah Waspada Dampak Asap Karhutla

Dinkes Sumsel imbau daerah waspada dampak asap karhutla. Faskes disiagakan untuk mengantisipasi gangguan pernapasan dan ISPA.

PALEMBANG - UlasYuk.com - Dinas Kesehatan Sumatera Selatan (Dinkes Sumsel) mengimbau pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah ini dilakukan menjelang dan selama puncak musim kemarau.

Dinkes Sumsel Imbau Daerah Waspada Dampak Asap Karhutla

Dinkes Sumsel juga meminta seluruh fasilitas pelayanan kesehatan bersiap menghadapi kemungkinan meningkatnya keluhan gangguan pernapasan. Risiko tersebut terutama muncul ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap.

Kewaspadaan menjadi penting karena sejumlah wilayah Sumatera Selatan mulai menghadapi penurunan kualitas udara. Karena itu, masyarakat diminta ikut mengurangi risiko paparan asap, terutama kelompok yang lebih rentan.

Dinkes Sumsel Tingkatkan Kesiapsiagaan

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa Ogahtriyah, mengatakan seluruh dinas kesehatan kabupaten dan kota telah diminta meningkatkan kewaspadaan.

Langkah tersebut mencakup edukasi kepada masyarakat, penguatan pemantauan penyakit, hingga kesiapan fasilitas kesehatan. Dinkes juga meminta pelayanan kesehatan mampu merespons jika terjadi peningkatan jumlah pasien.

Kebijakan itu telah diperkuat melalui surat edaran Dinkes Sumsel sejak 2 Juni 2026. Surat tersebut merupakan tindak lanjut dari keputusan gubernur terkait status siaga darurat bencana asap akibat karhutla.

Melalui arahan tersebut, pemerintah kabupaten dan kota diminta memperkuat koordinasi lintas sektor. Pemantauan kualitas udara juga perlu dilakukan secara berkala agar langkah penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan.

Sementara itu, fasilitas seperti puskesmas, puskesmas pembantu, poskesdes, dan rumah sakit diminta tetap siap memberikan pelayanan. Daerah terdampak juga diarahkan menyiapkan posko kesehatan dan logistik yang diperlukan.

Asap Karhutla Berisiko Picu Gangguan Pernapasan

Paparan asap karhutla dapat menimbulkan berbagai keluhan kesehatan. Gangguan tersebut dapat berupa batuk, iritasi mata, tenggorokan kering, hingga sesak napas.

Risiko semakin besar apabila seseorang terpapar asap dalam waktu lama. Kondisi udara yang buruk juga dapat memperberat gangguan pernapasan yang sudah dimiliki seseorang.

Dinkes Sumsel secara khusus mewaspadai potensi peningkatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Puncak musim kemarau pada Agustus hingga September menjadi periode yang perlu mendapat perhatian lebih.

Namun, data kesehatan menunjukkan situasi tidak sepenuhnya seragam. Data Januari hingga Juni 2026 yang disampaikan Dinkes menunjukkan perkembangan kasus ISPA masih perlu terus dipantau.

Pada saat yang sama, laporan mengenai kondisi Juli masih dalam proses penginputan dari sejumlah fasilitas kesehatan. Karena itu, Dinkes belum dapat memastikan dampak karhutla terhadap angka ISPA pada bulan tersebut.

Kondisi tersebut membuat pemantauan penyakit menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan. Dengan data yang diperbarui secara berkala, pemerintah dapat melihat apakah terjadi peningkatan kasus di wilayah tertentu.

Kelompok Rentan Perlu Mendapat Perhatian

Dampak asap karhutla tidak selalu dirasakan dengan tingkat yang sama oleh setiap orang. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu termasuk kelompok yang perlu lebih berhati-hati.

Dinkes Sumsel mendorong masyarakat membatasi paparan asap ketika kualitas udara memburuk. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi, terutama ketika kondisi udara sudah tidak sehat.

Masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar rumah. Selain itu, konsumsi air putih perlu diperhatikan untuk membantu menjaga kondisi tubuh selama menghadapi udara yang kurang baik.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat antara lain:

  • Menggunakan masker ketika berada di luar rumah.
  • Mengurangi aktivitas luar ruangan saat udara memburuk.
  • Memantau informasi kualitas udara di wilayah masing-masing.
  • Menjaga sirkulasi dan kualitas udara di dalam rumah.
  • Memperbanyak konsumsi air putih.
  • Menghindari asap rokok dan pembakaran sampah.
  • Segera mencari pertolongan medis jika muncul sesak napas atau keluhan yang semakin berat.

Langkah tersebut penting karena perlindungan kesehatan tidak hanya bergantung pada pelayanan medis. Perilaku masyarakat juga berperan dalam mengurangi paparan asap.

Fasilitas Kesehatan Diminta Tetap Siaga

Dinkes Sumsel meminta daerah terdampak memastikan fasilitas kesehatan memiliki kesiapan yang memadai. Kesiapan tersebut mencakup tenaga kesehatan, pelayanan pasien, serta ketersediaan logistik.

Selain itu, perkembangan kasus ISPA dan pneumonia diminta dilaporkan secara rutin. Informasi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus membantu pemerintah menentukan respons berikutnya.

Kesiapan fasilitas kesehatan menjadi penting ketika kualitas udara menurun dalam waktu cukup lama. Jika jumlah pasien meningkat, pelayanan kesehatan harus mampu memberikan penanganan tanpa mengabaikan kebutuhan pasien lainnya.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga perlu memperkuat komunikasi kepada masyarakat. Informasi yang jelas dapat membantu warga memahami risiko asap dan langkah perlindungan yang tepat.

Upaya tersebut juga perlu berjalan bersama pengendalian karhutla. Penanganan kesehatan memang penting, tetapi pencegahan dan pemadaman kebakaran tetap menjadi bagian utama untuk mengurangi sumber asap.

Warga Diminta Tidak Mengabaikan Gejala

Dinkes Sumsel mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu kondisi menjadi berat sebelum mendapatkan pertolongan. Keluhan seperti batuk berkepanjangan atau gangguan pernapasan perlu diperhatikan.

Jika muncul sesak napas atau kondisi kesehatan memburuk, masyarakat dianjurkan segera mendatangi puskesmas atau rumah sakit. Penanganan lebih awal dapat membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.

Kewaspadaan juga perlu dipertahankan meskipun angka kasus pada periode tertentu belum menunjukkan lonjakan. Sebab, perubahan arah angin, luas karhutla, dan kualitas udara dapat memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat dengan cepat.

Dengan kesiapan pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, dan masyarakat, risiko kesehatan akibat asap karhutla diharapkan dapat ditekan. Karena itu, imbauan Dinkes Sumsel menjadi pengingat agar kewaspadaan tetap dijaga sepanjang periode rawan karhutla.

Pada akhirnya, penanganan asap bukan hanya persoalan lingkungan. Karhutla juga memiliki dampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. Kolaborasi berbagai pihak menjadi kunci untuk menghadapi ancaman tersebut secara lebih cepat dan terukur.