BRIN Ungkap Saturasi Revenue Operator Telco Indonesia
UlasYuk.com, Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN menyoroti kondisi saturasi revenue operator telco di Indonesia. Kondisi ini dinilai menjadi tantangan besar bagi industri telekomunikasi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan layanan digital masyarakat.
BRIN menyebut pertumbuhan pendapatan operator telekomunikasi saat ini mulai melambat. Sementara itu, biaya operasional jaringan terus meningkat seiring perluasan infrastruktur dan kebutuhan energi yang semakin besar.
Di sisi lain, layanan lama seperti telepon dan SMS kini tidak lagi menjadi sumber pemasukan utama. Karena itu, operator seluler harus mencari strategi baru agar tetap mampu menjaga profitabilitas bisnis di tengah persaingan industri digital yang semakin ketat.
BRIN Soroti Saturasi Revenue Operator Telco
Peneliti Ahli Muda Kelompok Riset Communication and Signal Processing BRIN, Dr Moch Mardi Marta Dinata, menjelaskan bahwa industri telekomunikasi mengalami perlambatan pertumbuhan pendapatan. Hal itu berdasarkan hasil riset PricewaterhouseCoopers atau PwC.
Menurutnya, analisis historical revenue sejak 2021 hingga proyeksi 2032 menunjukkan kenaikan pendapatan industri telekomunikasi hanya sekitar 1,2 persen. Angka tersebut dinilai sangat kecil jika dibandingkan dengan tingginya kebutuhan investasi jaringan dan teknologi baru.
Dr Mardi mengatakan operator kini harus lebih agresif dalam meningkatkan penjualan layanan digital. Paket internet, layanan data, hingga produk digital tambahan menjadi sumber pendapatan utama pengganti layanan konvensional.
“Legacy services seperti telepon dan SMS sudah sangat sedikit digunakan,” ujarnya dalam webinar bertema Kajian Kebutuhan Energi Jaringan Telekomunikasi Selular di Indonesia.
Selain fokus pada penjualan, BRIN menilai efisiensi biaya operasional juga menjadi langkah penting. Salah satu biaya terbesar operator telekomunikasi berasal dari konsumsi energi jaringan.
Biaya Energi Jadi Beban Besar Operator
BRIN mengungkapkan bahwa biaya energi mencakup sekitar 20 persen dari total operational cost operator telekomunikasi. Dari jumlah tersebut, sekitar 90 persen digunakan untuk membeli bahan bakar dan listrik.
Kondisi itu membuat operator harus mencari solusi efisiensi agar margin keuntungan tetap terjaga. Terlebih lagi, kebutuhan listrik untuk BTS dan perangkat jaringan terus meningkat seiring pertumbuhan trafik internet.
Sementara itu, laporan McKinsey menyebut terdapat empat faktor utama yang dapat mendorong efisiensi biaya energi di industri telekomunikasi, antara lain:
- Keterjangkauan biaya operasional
- Pengurangan emisi karbon
- Keandalan pasokan energi
- Peningkatan daya saing industri
Namun, BRIN menilai penggunaan energi hijau atau renewable energy menjadi solusi paling potensial untuk menekan biaya operasional operator telekomunikasi.
Energi Terbarukan Dinilai Paling Efektif
Dr Mardi menjelaskan operator dapat memanfaatkan berbagai sumber energi terbarukan sesuai kondisi lokasi BTS atau site jaringan.
Beberapa sumber energi yang dinilai potensial meliputi:
- Solar panel atau solar PV
- Turbin angin
- Micro hydro kinetic
- Sistem energi hybrid lainnya
Menurutnya, penggunaan energi terbarukan dapat membantu operator mengurangi ketergantungan terhadap listrik konvensional dan bahan bakar.
Selain itu, langkah tersebut juga mendukung target pengurangan emisi karbon di sektor teknologi dan telekomunikasi nasional.
Implementasi Energi Hijau Dinilai Masih Lambat
Meski dianggap potensial, implementasi renewable energy di sektor telekomunikasi Indonesia masih berjalan lambat. BRIN mempertanyakan alasan operator belum menerapkan teknologi tersebut secara luas.
Dr Mardi mengungkapkan bahwa riset dan proyek percontohan sebenarnya sudah dimulai sejak 2010. Saat itu, Telkom Indonesia disebut pernah melakukan pilot project energi terbarukan di wilayah Kalimantan dan Sumatera.
Namun hingga kini, penggunaan energi hijau di jaringan operator masih terbatas. Karena itu, BRIN menduga terdapat hambatan tertentu yang membuat implementasi belum berjalan maksimal.
Hambatan tersebut bisa berasal dari biaya investasi awal yang tinggi, kesiapan teknologi, hingga tantangan operasional di lapangan. Selain itu, kondisi geografis Indonesia juga menjadi faktor penting dalam penerapan sistem energi alternatif.
Meskipun begitu, BRIN menilai transformasi energi di industri telekomunikasi tetap harus dipercepat. Langkah ini dinilai penting agar operator mampu bertahan di tengah tekanan pertumbuhan pendapatan yang stagnan.
Industri Telekomunikasi Hadapi Tantangan Baru
Saturasi revenue operator telco menjadi sinyal bahwa industri telekomunikasi nasional sedang memasuki fase baru. Pertumbuhan pelanggan internet yang tinggi ternyata tidak selalu sejalan dengan kenaikan pendapatan operator.
Di sisi lain, kebutuhan investasi jaringan terus meningkat. Operator harus membangun BTS baru, memperluas jaringan fiber optik, dan meningkatkan kapasitas layanan data untuk mendukung kebutuhan digital masyarakat.
Karena itu, efisiensi operasional menjadi kunci penting agar bisnis tetap berjalan sehat. Penggunaan energi terbarukan dinilai dapat menjadi salah satu solusi jangka panjang bagi operator telekomunikasi di Indonesia.
Selain membantu mengurangi biaya listrik, penerapan green energy juga dinilai mampu meningkatkan citra perusahaan di mata publik dan investor. Tren global saat ini juga mendorong perusahaan teknologi untuk lebih ramah lingkungan.
BRIN berharap operator telekomunikasi mulai mempercepat transisi energi hijau. Dengan begitu, industri telekomunikasi Indonesia dapat tetap kompetitif sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di masa depan.
