
UlasYuk.com - Karawang, Jawa Barat, pabrik baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) telah beroperasi sejak Juli 2026. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan fasilitas tersebut dalam waktu dekat sebagai bagian dari pengembangan industri baterai nasional.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengungkapkan rencana peresmian tersebut di Istana Negara pada Senin, 19 Oktober 2026. Menurutnya, pengembangan industri hilirisasi nikel di Indonesia berjalan dengan baik, termasuk pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik.
Pabrik di Karawang ini merupakan hasil kerja sama antara Indonesia Battery Corporation (IBC) dan CBL, anak usaha produsen baterai asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL). Fasilitas tersebut memproduksi baterai untuk kendaraan listrik sekaligus sistem penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS).
Kehadiran pabrik ini menjadi bagian penting dari upaya Indonesia mengembangkan industri baterai yang terintegrasi. Selain memperkuat kapasitas produksi dalam negeri, proyek tersebut juga melibatkan transfer pengetahuan melalui pelatihan ratusan pegawai Indonesia di Tiongkok.
Pabrik Baterai EV CATIB di Karawang Siap Diresmikan Prabowo
Bahlil menyampaikan bahwa pemerintah segera menggelar peresmian fasilitas baterai kendaraan listrik di Karawang. Pernyataan itu disampaikan setelah Presiden Prabowo meresmikan sejumlah pabrik di kawasan industri Wedabay, Maluku Utara.
Menurut Bahlil, proyek baterai di Karawang merupakan kelanjutan dari pembangunan ekosistem kendaraan listrik yang melibatkan perusahaan nasional dan mitra industri internasional. Prabowo sebelumnya meletakkan batu pertama atau melakukan groundbreaking proyek tersebut pada 29 Juni 2025.
Meski peresmian oleh Presiden masih menunggu pelaksanaan, fasilitas produksi CATIB telah beroperasi sejak Juli 2026. Dengan demikian, pabrik tersebut mulai menjalankan kegiatan produksi sekitar 13 bulan setelah pembangunan dimulai.
Pabrik ini berlokasi di kawasan Artha Industrial Hill (AIH) dan Karawang New Industry City (KNIC), Karawang, Jawa Barat. Kehadirannya menambah kapasitas industri baterai kendaraan listrik di Indonesia, yang sebelumnya telah memiliki fasilitas produksi milik PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power.
HLI Green Power meresmikan pabrik baterainya di Karawang pada Juli 2024. Karena itu, beroperasinya fasilitas CATIB memperluas basis manufaktur baterai kendaraan listrik di kawasan industri tersebut.
Kapasitas Awal 6,9 GWh, Target Ekspansi 15 GWh
Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menjelaskan bahwa tahap pertama pembangunan pabrik CATIB memiliki kapasitas 6,9 gigawatt-jam (GWh). Namun, pengembangan fasilitas tersebut direncanakan berlanjut hingga mencapai setidaknya 15 GWh.
Aditya menyampaikan penjelasan itu dalam acara Sosialisasi MediaMind 2026 di Energy Building, Jakarta, pada Senin, 14 September 2026. Ia juga menegaskan bahwa fasilitas tersebut telah beroperasi sejak Juli dan menghasilkan produk untuk dua kebutuhan utama.
Kedua kebutuhan tersebut meliputi baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi. BESS berfungsi menyimpan energi agar dapat digunakan kembali sesuai kebutuhan, sehingga pemanfaatannya tidak terbatas pada sektor otomotif.
Pengembangan kapasitas hingga 15 GWh diperkirakan membutuhkan total investasi sekitar US$1,2 miliar atau setara Rp21,19 triliun. Perhitungan tersebut menggunakan asumsi kurs Rp17.662 per dolar AS.
Menurut Aditya, kapasitas produksi 15 GWh secara teoritis setara dengan kebutuhan daya sekitar 250.000 kendaraan listrik. Angka tersebut memberikan gambaran mengenai potensi skala produksi apabila rencana ekspansi mencapai target.
Meski begitu, kapasitas produksi tidak otomatis menunjukkan jumlah kendaraan yang akan menerima baterai dari pabrik tersebut. Realisasi pemanfaatannya tetap bergantung pada kebutuhan pelanggan, jenis baterai, dan alokasi produksi untuk kendaraan listrik maupun sistem penyimpanan energi.
Proses Produksi Baterai Terintegrasi di Karawang
Fasilitas CATIB menggabungkan proses pembuatan sel baterai atau battery cell dengan tahap pengemasan menjadi paket baterai. Area produksi sel membentang sekitar satu kilometer dari ujung ke ujung, dengan fasilitas pengemasan berada di bagian sebelahnya.
Aditya menjelaskan bahwa proses produksi dimulai dari material baterai yang masuk ke fasilitas pengolahan. Material tersebut kemudian diproses menjadi sel baterai sebelum menjalani tahap pengemasan di fasilitas packer.
Secara umum, alur produksi di fasilitas tersebut mencakup beberapa tahapan berikut:
- Pengolahan material: material baterai menjadi masukan utama untuk proses produksi.
- Pembuatan sel baterai: material diproses menjadi battery cell sebagai komponen utama baterai.
- Pengemasan: sel baterai masuk ke fasilitas packer untuk menjalani proses pengemasan menjadi produk sesuai kebutuhan.
- Pemanfaatan produk: baterai yang dihasilkan ditujukan untuk kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi.
Integrasi proses tersebut menjadi bagian penting dari pengembangan fasilitas CATIB. Dengan menggabungkan produksi sel dan pengemasan dalam satu kawasan, perusahaan memiliki rangkaian proses manufaktur yang saling terhubung.
Namun, informasi mengenai kapasitas awal 6,9 GWh dan target 15 GWh perlu dibedakan dari realisasi produksi aktual. Angka kapasitas menggambarkan kemampuan produksi yang direncanakan atau tersedia, bukan jumlah baterai yang sudah dihasilkan sepanjang tahun.
IBC Latih 600 Pegawai di Tiongkok
Untuk mendukung operasional pabrik, IBC menjalankan program transfer pengetahuan atau knowledge transfer. Perusahaan telah mengirimkan 600 pegawai untuk mengikuti pelatihan di Tiongkok.
Program tersebut menjadi bagian dari persiapan sumber daya manusia dalam menjalankan fasilitas produksi baterai. Melalui pelatihan, pegawai diharapkan memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan proses manufaktur serta operasional teknologi baterai.
Pengembangan tenaga kerja menjadi salah satu aspek penting dalam proyek industri yang melibatkan mitra internasional. Selain pembangunan fasilitas fisik, penguasaan teknologi dan kemampuan operasional juga diperlukan agar kegiatan produksi dapat berjalan secara berkelanjutan.
Meski demikian, jumlah pegawai yang mengikuti pelatihan tidak serta-merta menunjukkan seluruh kebutuhan tenaga kerja pabrik telah terpenuhi. Informasi mengenai jumlah total pekerja, tingkat penyerapan tenaga kerja lokal, dan rincian transfer teknologi lebih lanjut belum dijelaskan dalam keterangan tersebut.
Pabrik Akan Didukung PLTS Berkapasitas 18 MWp
Selain meningkatkan kapasitas industri baterai, IBC juga merencanakan langkah untuk mendukung aspek lingkungan di fasilitas Karawang. Perusahaan berencana memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 18 megawatt peak (MWp) pada 2027.
Rencana pemasangan PLTS tersebut menjadi bagian dari upaya pemanfaatan energi surya untuk mendukung kebutuhan operasional. Namun, kapasitas 18 MWp menunjukkan kapasitas puncak pembangkit, bukan jumlah energi listrik yang dihasilkan secara terus-menerus setiap jam.
Produksi listrik aktual akan bergantung pada sejumlah faktor, termasuk intensitas sinar matahari, kondisi cuaca, dan kinerja sistem. Karena itu, kontribusi PLTS terhadap kebutuhan listrik pabrik baru dapat dinilai secara lebih akurat setelah fasilitas tersebut beroperasi dan menghasilkan data produksi.
Rencana ini juga menunjukkan bahwa pengembangan ekosistem baterai tidak hanya berkaitan dengan produksi kendaraan listrik. Sistem penyimpanan energi dan pemanfaatan energi terbarukan turut menjadi bagian dari arah pengembangan industri tersebut.
IBC dan CATL Kembangkan Proyek Material Baterai di Halmahera
Selain pabrik baterai di Karawang, IBC bersama CATL juga mengembangkan proyek material baterai di Halmahera. Proyek tersebut memiliki nilai investasi US$600 juta atau setara sekitar Rp10,59 triliun.
Pengembangan proyek material baterai di Halmahera melengkapi kegiatan industri yang berlangsung di Karawang. Kedua proyek memiliki lingkup berbeda, yakni pengembangan material baterai dan produksi baterai untuk kendaraan listrik serta sistem penyimpanan energi.
Keterlibatan IBC dan CATL dalam kedua proyek tersebut memperlihatkan adanya kerja sama lintas tahapan dalam ekosistem baterai. Meski demikian, rincian jadwal penyelesaian proyek Halmahera, kapasitas produksinya, dan target operasionalnya tidak dijelaskan dalam keterangan yang tersedia.
Dengan beroperasinya pabrik CATIB dan rencana pengembangan proyek pendukung, Indonesia terus memperluas kegiatan manufaktur yang berkaitan dengan baterai kendaraan listrik. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada realisasi ekspansi, kebutuhan pasar, kesiapan sumber daya manusia, serta pelaksanaan proyek pendukung.
Kesimpulan
Pabrik baterai EV CATIB di Karawang telah beroperasi sejak Juli 2026 dan segera diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto. Fasilitas ini memulai pembangunan pada Juni 2025 dengan kapasitas tahap pertama 6,9 GWh dan rencana ekspansi hingga 15 GWh.
Dengan estimasi investasi sekitar Rp21,19 triliun untuk pengembangan kapasitas tersebut, pabrik CATIB menjadi salah satu proyek penting dalam penguatan industri baterai nasional. Dukungan pelatihan 600 pegawai, rencana PLTS 18 MWp, dan pengembangan proyek material baterai di Halmahera turut melengkapi arah pengembangan ekosistem tersebut.
Meski begitu, dampak jangka panjang proyek akan lebih jelas setelah ekspansi berjalan, kapasitas produksi termanfaatkan, dan kontribusi fasilitas terhadap kebutuhan industri kendaraan listrik serta penyimpanan energi dapat diukur.
FAQ
Kapan pabrik baterai CATIB di Karawang mulai beroperasi?
Pabrik baterai CATIB mulai beroperasi pada Juli 2026, sekitar 13 bulan setelah pembangunan dimulai pada 29 Juni 2025.
Berapa kapasitas produksi pabrik baterai CATIB?
Tahap pertama memiliki kapasitas 6,9 GWh. Perusahaan merencanakan ekspansi hingga setidaknya 15 GWh.
Berapa investasi untuk pengembangan pabrik di Karawang?
Total investasi untuk pengembangan kapasitas hingga 15 GWh diperkirakan mencapai US$1,2 miliar atau sekitar Rp21,19 triliun.
Apa saja produk yang dihasilkan pabrik CATIB?
Pabrik tersebut menghasilkan baterai untuk kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS).
Siapa yang mengelola pabrik baterai CATIB?
PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) merupakan perusahaan patungan antara Indonesia Battery Corporation (IBC) dan CBL, anak usaha CATL dari Tiongkok.