Ulasyuk.com - Jakarta, Kementerian Kesehatan RI masih mencatat keberadaan influenza A H3N2 subclade K yang populer disebut “super flu” di 13 provinsi Indonesia. Dalam laporan terbaru per 19 September 2026, Jawa Timur dan Kalimantan Selatan menjadi wilayah dengan proporsi temuan terbesar.
Apa Itu Super Flu?
Istilah “super flu” merujuk pada influenza A(H3N2) subclade K. Istilah tersebut lebih banyak muncul dalam pemberitaan dan percakapan publik. Sementara itu, Kemenkes menjelaskan bahwa H3N2 bukan virus influenza baru.
Influenza A H3N2 termasuk influenza musiman yang beredar setiap tahun. Subclade K merupakan salah satu kelompok genetik dari virus tersebut. Karena itu, istilah “super flu” tidak berarti muncul jenis penyakit yang sepenuhnya berbeda dari influenza.
Kemenkes sebelumnya menyatakan situasi influenza A(H3N2) subclade K di Indonesia tetap terkendali. Pemantauan pemerintah juga terus berjalan melalui sistem surveilans di sejumlah fasilitas kesehatan.
Istilah tersebut kemudian menjadi perhatian karena subclade K terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia. Namun, keberadaannya perlu dilihat bersama data pengawasan influenza secara keseluruhan, bukan hanya dari jumlah wilayah yang mencatat temuan.
Super Flu Terdeteksi di 13 Provinsi
Laporan Pengawasan Kasus Influenza dan COVID-19 Kemenkes yang diperbarui 19 September 2026 masih mencatat H3N2 subclade K tersebar di 13 provinsi. Jawa Timur dan Kalimantan Selatan memiliki proporsi temuan terbesar, masing-masing 24 persen. DKI Jakarta menyusul dengan proporsi 14,8 persen.
Kemenkes juga mencatat kasus paling awal dalam pemantauan tersebut terdeteksi pada minggu epidemiologi ke-36 di Jawa Tengah. Data sebaran ini menjadi bagian dari pemantauan karakteristik virus influenza di Indonesia.
Sebelumnya, Kemenkes mencatat 74 kasus H3N2 subclade K dari 204 spesimen influenza A(H3N2) yang diperiksa sejak 1 Januari 2025 hingga 10 Januari 2026. Temuan terbanyak saat itu berasal dari Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.
Adapun 13 provinsi yang tercatat dalam laporan periode tersebut meliputi:
- Jawa Timur
- Kalimantan Selatan
- DKI Jakarta
- Jawa Barat
- Sumatera Selatan
- Sumatera Utara
- Bali
- Nusa Tenggara Timur
- Jawa Tengah
- Nusa Tenggara Barat
- Sulawesi Selatan
- Sulawesi Utara
- DI Yogyakarta
Dengan demikian, penyebutan 13 provinsi bukan berarti seluruh kasus influenza di Indonesia berasal dari subclade K. Angka tersebut secara khusus menggambarkan sebaran H3N2 subclade K yang tercatat dalam sistem pengawasan.
Bagaimana Kondisi Influenza di Indonesia?
Data terbaru Kemenkes menunjukkan aktivitas influenza secara keseluruhan masih berada pada kategori rendah. Namun, beberapa indikator mengalami perubahan pada pekan pengamatan terbaru.
Pada minggu ke-36, Kemenkes memeriksa 185 spesimen dan menemukan 86 spesimen positif influenza. Dari jumlah tersebut, 76 merupakan influenza A(H1N1)pdm09, delapan influenza A(H3N2), dan dua influenza B Victoria.
Proporsi spesimen positif influenza juga naik menjadi 46 persen dari 35 persen pada minggu sebelumnya. Meskipun begitu, Kemenkes masih menempatkan tingkat aktivitas influenza dalam kategori rendah. Data beberapa minggu terakhir juga masih bersifat sementara dan dapat berubah.
Sementara itu, pemantauan di fasilitas pelayanan kesehatan primer menunjukkan proporsi kasus influenza-like illness atau ILI meningkat menjadi 0,40 persen dari total kunjungan. Angka tersebut sebelumnya berada di 0,31 persen.
Kondisi itu menunjukkan bahwa pengawasan tetap penting meskipun tingkat aktivitas influenza secara keseluruhan masih rendah. Terlebih lagi, influenza dapat memberikan dampak berbeda pada setiap orang.
H1N1pdm09 Justru Mendominasi Temuan Terbaru
Data pemeriksaan terbaru juga menunjukkan bahwa H3N2 subclade K bukan satu-satunya jenis influenza yang terdeteksi. Bahkan, pada minggu ke-36, H1N1pdm09 mencatat jumlah temuan jauh lebih banyak.
Dari 86 spesimen positif influenza, sebanyak 76 merupakan H1N1pdm09. Sementara itu, H3N2 tercatat delapan kasus dan influenza B Victoria sebanyak dua kasus.
Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak melihat istilah “super flu” secara terpisah dari perkembangan influenza lainnya. Pemantauan laboratorium membantu pemerintah mengetahui jenis influenza yang beredar serta perubahan pola kasus dari waktu ke waktu.
Selain itu, Kemenkes menjalankan pengawasan melalui fasilitas pelayanan kesehatan yang menjadi bagian dari sistem surveilans. Sistem tersebut membantu memantau tren penyakit, karakteristik virus, pemeriksaan molekuler, serta kondisi klinis yang berkaitan dengan influenza.
Siapa yang Perlu Lebih Waspada?
Influenza dapat menimbulkan gejala yang berbeda pada setiap orang. Risiko komplikasi juga tidak sama untuk semua kelompok masyarakat.
Data Kemenkes pada laporan terbaru menunjukkan 42 persen kasus influenza yang terdeteksi berada pada kelompok usia 0-4 tahun. Temuan tersebut membuat pemantauan terhadap anak tetap menjadi bagian penting dalam pengawasan influenza.
Selain anak-anak, kondisi kesehatan seseorang juga dapat memengaruhi risiko ketika mengalami infeksi influenza. Karena itu, masyarakat sebaiknya memperhatikan kondisi tubuh dan mencari pertolongan medis ketika muncul gejala yang berat atau memburuk.
Di sisi lain, masyarakat tidak perlu menganggap setiap infeksi influenza sebagai kondisi yang sama. Tingkat risiko dapat berbeda sesuai usia, kondisi kesehatan, serta perkembangan gejala.
Mengapa Istilah Super Flu Perlu Dipahami dengan Tepat?
Penggunaan istilah “super flu” dapat membuat masyarakat mengira bahwa virus tersebut merupakan penyakit baru yang sangat berbeda dari influenza biasa. Padahal, Kemenkes menegaskan H3N2 merupakan bagian dari influenza musiman.
Oleh karena itu, informasi mengenai subclade K perlu disampaikan bersama konteks epidemiologinya. Jumlah provinsi yang mencatat temuan memang menjadi salah satu indikator sebaran. Namun, indikator tersebut tidak secara otomatis menunjukkan tingkat keparahan penyakit.
Kemenkes juga telah menerbitkan surat edaran khusus mengenai penanggulangan influenza A(H3N2) subclade K pada 4 Februari 2026. Dokumen tersebut tercatat sebagai surat edaran yang masih berlaku dalam JDIH Kementerian Kesehatan.
Dengan pengawasan yang terus berjalan, perkembangan influenza dapat dipantau secara berkala. Masyarakat juga dapat mengikuti informasi kesehatan dari pemerintah dan fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat.
Kesimpulan
“Super flu” merupakan sebutan populer untuk influenza A(H3N2) subclade K. Kemenkes masih mencatat subclade tersebut di 13 provinsi Indonesia, dengan proporsi terbesar berada di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.
Namun, data terbaru menunjukkan aktivitas influenza secara keseluruhan masih berada pada kategori rendah. Pada minggu ke-36, H1N1pdm09 juga mendominasi hasil pemeriksaan influenza dibandingkan H3N2.
Karena itu, masyarakat perlu memahami istilah “super flu” berdasarkan data pengawasan yang tersedia. Menjaga kebersihan, memperhatikan kondisi tubuh, dan mencari pertolongan medis ketika mengalami gejala berat tetap menjadi langkah penting dalam menghadapi penyakit influenza.
FAQ
Apa itu super flu?
Super flu merupakan sebutan populer untuk influenza A(H3N2) subclade K. Kemenkes menjelaskan bahwa H3N2 termasuk influenza musiman.
Di mana super flu ditemukan?
Kemenkes mencatat H3N2 subclade K tersebar di 13 provinsi. Jawa Timur dan Kalimantan Selatan mencatat proporsi temuan terbesar dalam laporan terbaru.
Apakah super flu merupakan virus baru?
H3N2 bukan virus influenza baru. Kemenkes menyebut H3N2 sebagai bagian dari influenza musiman yang beredar setiap tahun.
Apakah aktivitas influenza di Indonesia tinggi?
Laporan Kemenkes per 19 September 2026 masih menempatkan aktivitas influenza dalam kategori rendah. Namun, proporsi spesimen positif influenza meningkat dalam pengamatan terbaru.
